Rabu, 22 Oktober 2014

Teori Kecerdasan Ganda (Howard Gardner)


PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kecerdasan (Intelegence) selama ini kita ketahui sebagai sebuah kemampuan didalam belajar, memahami suatu permasalahan yang ada serta mampu menyelesaikan permasalahan tersebut atau kemampuan berpendapat yang berasal dari fikiran seseorang tersebut. Kecerdasan dalam hal ini hanya dianggap sebagai suatu kemampuan intelektual yang lebih menekankan pada kemampuan logika seseorang, kecerdasan ini dipahami sebagai kemampuan dalam menjawab soal-soal tes yang diberikan ketika sedang ujian diruang kelas. Belakangan ini mungkin tidak asing ditelinga kita istilah Intelegence Quation (IQ) yang seringkali dan bahkan selalu digunakan dalam menetapkan tolak ukur untuk mengetahui tingkat kecerdasan seseorang, sehingga seolah-olah orang yang mempunyai IQ yang tinggi maka kita memposisikan orang tersebut sebagai orang serba bisa dan memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan orang lain.
Mind Set masyarakat yang masih bersifat primitif dalam memahami sebuah arti kecerdasan perlu di reset kembali untuk memberikan pencerahan yang tidak sekedar merubah pola fikir mereka yang masih sempit dalam memahami makna suatu kecerdasan namun juga untuk membuka wawasan mereka agar memiliki pola fikir yang luas untuk memahami bahwa pada dasarnya manusia tidak hanya memiliki sebatas IQ saja tetapi manusia memiliki banyak jenis kecerdasan yang terdapat didalam dirinya. Kemampuan yang dimiliki tersebut perlu diasah dan dikembangkan karena kemampuan tersebut masih tersembunyi didalam diri seseorang.
Menurut Gardner intelegensi seseorang bukan dapat hanya diukur dengan tes tertulis, melainkan lebih cocok dengan cara bagaimana orang itu memecahkan persoalan dalam hidup nyata, intelegensi seseorang dapat dikembangkan lewat pendidikan dan intelegensi itu banyak jumlahnya.
Berdasarkan latar pemikiran di atas, maka dalam isi makalah ini kami akan memaparkan tentang kecerdasan-kecerdasan yang dimiliki oleh setiap orang serta bagaimana aplikasi teori kecerdasan ganda dalam proses pembelajaran sehingga diharapkan persepsi masyarakat yang masih menganggap bahwa kecerdasan itu hanya dapat diukur dengan tes tertulis dapat mengubah cara pandang mereka dalam memaknai teori kecerdasan tersebut.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka di rumuskan beberapa permasalahan yaitu:
1.      Bagaimana awal mula lahirnya kecerdasan ganda?
2.      Apakah Definisi Kecerdasan?
3.      Apa yang melandasai teori lahirnya Teori Kecerdasan Ganda?
4.      Ada berapa Macam Kecerdasan-kecerdasan yang kita miliki sebenarnya?
5.      Bagaimana implementasi teori kecerdasan ganda dalam dunia pendidikan?
C.    Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat tujuan dari pembahasan makalah ini adalah
1.      Untuk mengetahui bagaimana asal mula munculnya Teori Kecerdasan Ganda
2.      Untuk memahami makna kecerdasan yang sebenarnya.
3.      Mengetahui teori-teori yang melandasi lahirnya teori kecerdasan ganda.
4.      Mengetahui macam kecerdasan yang terdapat dalam setiap manusia.
5.      Untuk mengetahui sejauh mana implementasi teori kecerdasan ganda dalam proses belajar mengajar.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sejarah Munculnya Teori Kecerdasan Ganda
Teori intelegensi ganda  (Multiple Intelegence) ditemukan dan dikembangkan oleh Howard Gardner, seorang ahli psikologi perkembangan dan profesor pendidikan dari graduate School of Education, Harvard university, Amerika Serikat. Ia menuliskan gagasannya tentang intelegensi ganda dalam bukunya Frames of Mind pada tahun 1983. Pada tahun 1993 ia mempublikasikan bukunya berjudul multiple intelegence, setelah melakukan banyak penelitian tentang implikasi teori intelegensi ganda didunia pendidikan. Teori itu dilengkapi lagi dengan terbitnya buku intelegence reframed pada tahun 2000. Selama tahun 1983 sampai dengan 2003 Gardner, yang juga menjadi Direktur Proyek Zero di Harvard University, banyak menulis dan mengembangkan teori intelegensi ganda dan terutama aplikasinya dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat. Proyek Zero adalah pusat penelitian dan pendidikan yang mengembangkan cara belajar, berfikir dan kreatifitas dalam mempelajari suatu bidang bagi individu dan intuisi. Teori intelegensi ganda banyak mendasari proyek Zero.
Gardner mengatakan bahwa intelegensi bukan hanya kemampuan seseorang untuk menjawab suatu tes IQ dalam kamar tertutup yang lepas dari lingkungannya. Intelegnsi memuat kemampuan memecahkan persoalan yang nyata dalam situasi yang berbeda-beda. Tekanan pada persoalan nyata ini sangat penting bagi Gardner karena seseorang baru sungguh berintelegensi tinggi bila dia dapat menyelesaikan persoalan dalam hidup nyata, bukan hanya dalam teori.
Gardner membedakan antara intelegensi lama yang diukur dengan IQ dan intelegensi ganda yang ia temukan. Dalam pengertian lama, intelegensi seseorang dapat diukur dengan tes tertulis (tes IQ), IQ seseorang tetap sejak lahir dan tidak dapat dikembangkan secara signifikan, yang menonjol dalam pengukuran IQ adalah kemampuan matematis logis dan linguistik. Sedangkan menurut Gardner, intelegensi seseorang bukan dapat hanya diukur dengan tes tertulis, melainkan lebih cocok dengan cara bagaimana orang itu memecahkan persoalan dalam hidup nyata, intelegensi seseorang dapat dikembangkan lewat pendidikan, dan intelegensi itu banyak jumlahnya (Suparno, 2009: 17-19).
B.     Pengertian Kecerdasan (intelegence)
Para ahli dalam memberikan penjelasan tentang arti istilah selalu mengacu pada aspek-aspek yang berbeda-beda dan dengan pendekatan yang berbeda-beda pula. Begitu juga dalam memberikan makna tentang kecerdasan, berikut ini beberapa pendapat para ahli dalam memaparkan pengertian kecerdasan ditinjau dari beberapa aspek yaitu:
Vernon menggolongkan definisi kecerdasan menjadi tiga kategori yaitu:
1.      Ditinjau dari ilmu biologi, kecerdasan ditafsirkan sebagai kemampuan dasar manusia yang secara relatif diperlukan untuk penyesuaian diri pada alam sekitar.
2.      Kecerdasan ditinjau dari secara psikologis, menurut Burt kecerdasan merupakan kemampuan kognitif umum yang dibawa individu sejak lahir, sedangkan menurut D.O. Hebb dan R.B. Cattell membedakan menjadi dua tipe arti kecerdasan yaitu, Tipe A (Fluid Intelegence) adalah potensialitas keturunan atau kualitas pembawaan pada sistem syaraf dasar seseorang. Kemudian Tipe B (crystallized intelegence) adalah kecerdasan yang dibentuk oleh pengalaman belajar dan factor-faktor alam sekitar, baik fisik maupun masyarakat sosial.
3.      Secara operasional kecerdasan didefinisikan dalam pelaksanaan atau dalam aplikasinya secara operasional dengan menggunakan istilah-istilah pasti (Prawira, 2013: 136-139).
Berdasar Definisi di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa definisi tersebut menekankan kepada tiga kawasan bidang kajian yang mana ditinjau dari ranah keilmuan biologi, kemudian psikologi dan dari segi operasional, dari ketiga kawasan tersebut kita dapat menarik benang merah bahwa sebenarnya hal tersebut merupakan rentetan atau urutan dari kecerdasan yang dimulai dari proses biologis yaitu sejak awal manusia itu lahir, kemudian terus berkembang sampai ke proses dewasa dengan kemampuan-kemampuan yang dimiliki hingga mencapai kematangan yang kemudian dapat diaplikasikan dalam kehidupan yang lebih kongkrit.
Kemudian Freeman dalam Prawira (2013: 139) juga mendefinisikan bahwa “kecerdasan dipandang sebagai suatu kemampuan yang dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu kemampuan adaptasi, kemampuan belajar, dan kemampuan befikir abstrak”.
Berdasarkan definisi yang dijabarkan oleh Freeman kita dapat memahami bahwa kecerdasan yang terdapat dalam diri kita terdiri dari tiga bagian, dimana setiap bagian-bagian tersebut nantinya akan melahirkan beberapa jenis kemampuan yang kita miliki, misalnya saja kemampuan adaptasi yaitu kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar baik dengan masyarakat atau lingkungan tempat tinggal kita, kecerdasan adaptasi ini akan melahirkan kecerdasan yang disebut dengan interpersonal dalam diri kita yang nantinya akan kita bahas di pembahasan selanjutnya. Kemudian yang kedua kemampuan belajar nantinya akan melahirkan ranah kecerdasan yang lebih luas lagi, baik itu kemampuan berbahasa, bermusik dan lain sebagainya karena kemampuan belajar memiliki cakupan yang luas, kemudian yang terakhir yaitu kemampuan berfikir abstrak, kemampuan ini berhubungan dengan para scientist, kemampuan ini akan melahirkan istilah kecerdasan matematis-logis.
Sedangkan D. Wechsler berpendapat bahwa “kecerdasan adalah kumpulan kapasitas atau kapasitas global individu untuk berbuat menurut tujuannya secara tepat, berfikir secara rasional, dan mengahadapi alam sekitar secara efektif” (Prawira,2013: 141) . Berdasarkan pandangan Wechsler dapat kita ketahui bahwa didalam diri kita terdapat sekumpulan kapasitas yang memiliki memiliki ketepatan dalam bertindak sesuai dengan tujuan yang diinginkan dengan mengacu kepada pertimbangan rasionalitas individu itu sendiri.
Menurut Gardner “kecerdasan merupakan kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu seting yang bermacam-macam dan dalam situasi yang nyata” (Suparno, 2009: 17). Pendapat Gardner di atas memberikan kita sebuah informasi bahwa seseorang dikatakan memiliki kecerdasan apabila mampu memecahkan permasalahan yang dihadapi, tidak hanya itu, dimana kemudian dengan terpecahnya masalah tersebut akan menimbulkan masalah yang baru untuk dipecahkan oleh generasi yang selanjutnya sebagai pengembangan kecerdasan yang lebih maju lagi.
C.    Landasan Teori Intelegensi Ganda (Kriteria Keabsahan Munculnya Teori Kecerdasan Ganda)
Gardner menjelaskan bahwa “kemampuan-kemampuan yang dimasukan dalam intelegensi ganda haruslah memenuhi delapan kriteria yang sering digunakan untuk menentukan apakah kemampuan itu sungguh suatu intelegensi” (Suparno, 2009: 21). Delapan kriteria tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Terisolasi dalam bagian otak tertentu
Kemampuan yang dimiliki bersifat otonom, artinya terpisah dengan kemampuan yang lain serta terisolasi dari kecerdasan-kecerdasan yang lain. Bila kemampuan seseorang hilang karena kerusakan otak, maka kerusakan tersebut tidak akan mempengaruhi kemampuan yang lainnya dan tidak akan terganggu juga. Karena yang akan terganggu hanya bagian yang rusak tadi.
2.      Kemampuan itu independent
Dalam kehidupan ini tentu kita sering menjumpai bahwa manusia diciptakan berbeda-beda, ada yang sempurna dan adapula yang hidup dengan kekurangan-kekurangan yang dimilikinya, misalnya sering kita mendengar kasus orang yang pandai tetapi idiot(idiot savant), orang autis. Pada kasus seperti itu, orang tersebut memiliki kemampuan dalam hal tertentu, tetapi dibalik kemampuan yang mereka miliki ada ketidakmampuan yang mereka tidak miliki atau istilahnya mereka lemah dalam hal lain. Dari sini dilihat bahwa kemampuan seseorang bersifat independen.
3.      Memuat satuan operasi khusus
Setiap intelegensi mengandung keterampilan operasi tertentu yang berbeda satu sama lain dan dengan keterampilan operasi itu seseorang dapat mengekspresikan kemampuannya dalam menghadapi persoalan.
4.      Mempunyai sejarah perkembangan sendiri
Setiap inteleghensi memiliki sejarah perkembangannya tersendiri, mempunyai waktunya sendiri untuk berkembang, menuju puncak lalu kemudian akan turun, seperti karir sesorang yang pada puncaknya menjadi seorang yang professional.
5.      Berkaitan dengan sejarah evolusi zaman dulu
Setiap intelegensi yang sekarang ini dapat dicari awalnya dari evolousi (perkembangan) manusia kuno, bahkan dari evolusi spesies lain, bukan hanya terjadi sekarang ini.
6.      Dukungan psikologi eksprimental
Dari tugas-tugas psikologis yang diberikan tampak bahwa intelegensi bekerja secara terisolasi.
7.      Dukungan dari penemuan psikometrik
Dari beberapa tes psikologi yang terstandar dapat diyakini bahwa intelegensi yang ditemukan Gardner memang benar. Misalnya, Wechsler intelegence scale for children yang mengandung tes intelegensi linguistic, matematis-logis, visual dan kinestetik-badani.
8.      Dapat disimbolkan
Salah satu tanda tingkah intelegensi manusia adalah kemampuannya untuk menggunakan symbol dalam hidup (Suparno, 2009: 23-25).
Lebih lanjut lagi Asri Budiningsih dalam bukunya juga memberikan Kriteria keabsahan munculnya teori kecerdasan alam.
1.      Memiliki dasar biologis
Kecendrungan untuk mengetahui dan memecahkan masalah merupakan sifat dasar biologis/fisiologis manusia.
2.      Bersifat universal bagi spesies manusia
Setiap cara untuk memahami selalu ada pada setiap budaya, tidak peduli kondisi sosio-ekonomi dan pendidikannya.
3.      Nilai budaya suatu keterampilan
Cara untuk memahami sesuatu didukung oleh budaya manusia dan merupakan hal yang harus diteruskan kepada generasi penerus.
4.      Memiliki basis neurologi
Setiap kecerdasan memiliki bagian tertentu pada otak sebagai pusat kerjanya, dan yang dapat diaktifkan atau dipicu oleh informasi internal maupun eksternal.
5.      Dapat dinyatakan dalam bentuk symbol.
Setiap kecerdasan dapat dinyatakan dalam bentuk symbol atau tanda-tanda tertentu (Budiningsih, 2012: 116-117).
D.    Macam-Macam Intelegensi Ganda
1.      Intelegensi Linguistik
“Intelegensi linguistik memuat kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa dan kata-kata, secara tertulis maupun lisan, dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekspresikan gagasannya” (Prawira, 2013 : 154).
Gardner menjelaskan “intelegensi linguistik sebagai kemampuan untuk menggunakan dan mengolah kata secara efektif baik secara oral maupun tertulis seperti dimiliki para pencipta puisi, editor, jurnalis, dramawan, sastrawan, pemain sandiwara, maupun orator” (Suparno, 2009: 26).
Dalam buku metode mengajar Multiple Intelegences (Jasmine, 2012: 17-18) mengatakan juga  :
“Orang yang memiliki kecerdasan ini juga memiliki keterampilan audiotori (berkaitan dengan pendengaran) yang sangat tinggi, dan mereka belajar melalui mendengar. Mereka gemar membaca, menulis, dan berbicara, dan suka bercengkrama dengan kata-kata. Mereka mengkhidmat kata-kata bukan hanya untuk makna tersurat dan tersiratnya semata namun juga bentuk dan bunyinya, serta untuk citra yang tercipta ketika kata-kata dirancang-reka dalam cara yang lain dan berbeda dari yang biasa”.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa kecerdasan lingustik merupakan kecerdasan yang berhubungan kemampuan seseorang dalam bahasa, merangkai kata-kata didalam malakukan komunikasi dengan orang lain dan membuat orang lain tertarik untuk mendengar, selain itu kemampuan linguistik juga berhubungan dengan kemampuan mendengar dan serta dapat langsung menyerap apapun yang disampaikan oleh orang lain.
2.      Intelegensi Matematis-Logis
Menurut Prawira bahwa “Intelegensi Matematis Logis Memuat kemampuan seseorang dalam berfikir secara induktif dan deduktif, kemampuan berfikir menurut aturan logika, memahami dan menganalisis pola angka-angka, serta memecahkan masalah dengan menggunakan kemampuan berfikir” (Prawira, 2012: 153).
Gardner juga menambahkan bahwa “yang termasuk dalam intelegensi tersebut adalah kepekaan pada pola logika, abstraksi, kategorisasi, dan perhitungan” (Suparno, 2009: 29).
Intelegensi matematik logis adalah “intelegensi yang digunakan untuk memecahkan problem berbentuk logika simbolis dan matematika abstrak” (Azwar, 2010:42).
Dalam buku metode mengajar Multiple Intelegences disebutkan bahwa “kecerdasan logis matematis berhubungan dengan dan mencakup kemampuan ilmiah. Orang dengan kecerdasan ini gemar bekerja dengan data, mengumpulkan dan mengorganisasi, menganalisis serta menginterpretasikan, menyimpulkan kemudian meramalkan” (Jasmine, 2012: 19).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat kita tarik sebuah kesimpulan bahwa kecerdasan logis merupakan kecerdasan berhubungan dengan kemampuan seseorang dalam menyelesaikan permasalahan dengan mengedepankan prinsip-prinsip metode ilmiah, yaitu berfikir sistematis, tidak tergesa-gesa dalam menyelesaikan masalah serta bersifat hati-hati dalam mengambil sebuah keputusan.
3.      Intelegensi Ruang-Visual (Spatial intelegence)
“Kecerdasan visual berkaitan misalnya senirupa, navigasi, kemampuan pandang ruang, arsitektur, permainan catur. Kuncinya adalah kemampuan indera pandang dan berimajinasi” (Budiningsih, 2012:114).
“Intelegensi ruang-visual adalah kemampuan untuk menangkap dunia ruang visual secara tepat, seperti dipunyai para pemburu, arsitek, navigator, dan decorator. Termasuk didalamnya adalah kemampuan untuk mengenal bentuk dan benda secara tepat, melakukan perubahan suatu benda dalam pikirannya dan mengenali perubahan itu, menggambarkan suatu hal/benda dalam pikiran dan mengubahnya dalam bentuk nyata, serta mengungkapkan data dalam suatu grafik (Suparno, 2009:31).

Sedangkan Prawira memberikan pengertian bahwa “kecerdasan spasial (ruang visual) yaitu kemampuan seseorang untuk memahami secara lebih mendalam hubungan antara objek dan ruang” (Prawira, 2013:155).
Dalam buku metode mengajar Multiplie intelegences dikatakan bahwa “kecerdasan spasial adalah kemampuan untuk membentuk dan menggunakan model mental” (Jasmine, 2012:21).
Dari penjelasan di atas, maka kita dapat memberikan sebuah kesimpulan bahwa kecerdasan spasial merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan imajinasi yang disertai dengan kemampuan untuk menuangkannya menjadi ide-ide yang konkret.
4.      Intelegensi Kinestetis-Badani
“Intelegensi Kinestetis-Badani memuat kemampuan seseorang untuk secara aktif menggunakan bagian-bagian atau seluruh tubuhnya untuk berkomunikasi dan memecahkan berbagai masalah” (Prawira, 2013:156).
Menurut Gardner dalam Suparno (2009:34) “Kemampuan Kinestetik-Badani adalah kemampuan menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan seperti ada pada actor, atlet, penari, pemahat, dan ahli bedah”.
Dari penjelasan di atas, maka dapat dikatakan bahwa kecerdasan kinestetik badani merupakan sebuah kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan kita dalam mengolah tubuh untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang melibatkan aktifitas.
5.      Intelegensi Musikal
Menurut Prawira (2013:155) kecerdasan musical adalah kemampuan seseorang untuk peka terhadap suara-suara nonverbal yang berada disekelilingnya, termasuk nada dan irama.
Gardner dalam Suparno (2009:36) juga mengartikan “Intelegensi Musikal sebagai kemampuan mengembangkan, mengekspresikan, dan menikmati bentuk-bentuk music dan suara. Dimana didalamnya termasuk kepekaan akan ritme, melodi, dan intonasi; kemampuan memainkan alat music, kemampuan memainkan alat music, kemampuan untuk mencipta lagu, kemamouan untuk menikmati lagu, music, dan nyanyian”.
“Sebagian orang menyebut kecerdasan musical sebagai kecerdasan ritmik atau kecerdasan music/ritmik. Orang yang mempunyai kecerdasan jenis ini sangat peka terhadap suara atau bunyi, lingkungan dan juga music” (Jasmine, 2012:22).
Maka dapat kita tarik sebuah kesimpulan bahwa intelegensi musikal merupakan kemampuan seseorang dalam hal music, baik itu hanya mendengar,menyanyikan lagu ataupun menciptakan sebuah lagu.
6.      Intelegensi Interpersonal
Menurut Gardner bahwa “kecerdasan interpersonal adalah kecerdasan yang terlibat dalam pengujian individual dan pengetahuan tentang perasaan sendiri” (Efendi, 2005: 157).
Kecerdasan interpersonal atau bisa juga dikatakan kecerdasan sosial diartikan sebagai “kemampuan dan keterampilan seseorang dalam menciptakan relasi, membangun relasi dan mempertahankan relasi sosialnya sehingga kedua belah pihak berada dalam situasi menang-menang atau menguntungkan” (Safaria, 2005: 23).
Kecerdasan social mempunyai tiga dimensi yaitu:
a.      Social sensitivity
Kemampuan anak untuk merasakan dan mengamati reaksi-reaksi atau perubahan orang lain yang ditunjukan baik secara verbal maupun non verbal.
b.      Social insight
Kemampuan untuk memahami dan mencari pemecahan masalah yang efektif dalam interaksi sosial, sehingga masalah-masalah tersebut tidak menghambat apalagi menghancurkan relasi sosial yang telah dibangun anak.
c.       Social communication
Kemampuan individu untuk menggunakan proses komunikasi dalam menjalin dan membangun interpersonal yang sehat.(Safaria, 2005: 24-25).
Dari uraian di atas maka dapat dikatakan kecerdasan interpersonal merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan muamalah, yaitu hubungan seseorang dengan orang lain dalam menjalin hubungan social.
7.      Intelegensi Intrapersonal
Menurut Gardner Kecerdasan Intrapersonal “adalah kemampuan yang berkaitan dengan pengetahuan akan diri sendiri dan kemampuan untuk bertindak secara adaptif berdasar pengenalan diri itu” (Suparno, 2009: 41).
Sementara Prawira mengatakan bahwa “kecerdasan intrapersonal menunjukan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan dirinya sendiri. Anak dengan kecerdasan intrapersonal yang tinggi menunjukan tanda-tanda mampu mengenali berbagai kekuatan maupun kelemahan yang ada pada dirinya sendiri” (Prawira, 2013:157).
Jasmine juga menambahkan bahwa “Kecerdasan intrapersonal tercermin dalam kesadaran mendalam akan perasaan batin. Inilah kecerdasan yang memungkinkan seseorang memahami diri sendiri, kemampuan dan pilihannya sendiri” (Jasmine, 2012:27).
Maka dapat dikatakan bahwa Kemampuan intrapersonal merupakan kemampuan merefleksikan diri serta memuhasabah diri akan segala peristiwa-peristiwa yang telah di lewati oleh seseorang dalam hidupnya.
8.      Intelegensi Lingkungan
“Merupakan kemampuan seseorang untuk peka terhadap lingkungan alam” (Prawira, 2013:158).
Gardner menjelaskan intelegensi lingkungan sebagai “kemampuan seseorang untuk dapat mengerti flora dan fauna dengan baik, dapat membuat distingsi konsekuensial lain dalam alam natural, kemampuan untuk memahami dan menikmati alam, dan menggunakan kemampuan itu secara produktif dalam berburu, bertani, dan mengembangkan pengetahuan akan alam” (Suparno, 2009:42).
Sedangkan Safaria (2005: 23) mengatakan kecerdasan naturalis akan menunjukan kemampuan anak dalam memahami gejala-gejala alam, memperlihatkan kesadaran ekologis, dan menunjukan kepekaan terhadap bentuk-bentuk alam.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka yang dapat disimpulkan bahwa intelegensi naturalis atau lingkungan adalah kecerdasan yang berhubungan dengan kepedulian seseorang terhadap lingkungan, baik menyangkut kelestarian hidup hewan disekitar maupun kelestarian lingkungan hidup yang menyangkut tumbuh-tumbuhan.
9.      Intelegensi Eksistensial
Gardner mengungkapkan bahwa “Intelegensi ini menyangkut kepekaan dan kemampuan seseorang menjawab persoalan-persoalan terdalam eksistensi atau keberadaan manusia” (Suparno, 2009:43-43).
“Kecerdasan eksistensial banyak dijumpai pada para filusuf. Mereka mampu menyadari dan menghayati dengan benar keberadaan dirinya di dunia ini dan apa tujuan hidupnya” (Budiningsih, 2012: 116).
Amstrong (2003:250) dalam bukunya juga mengungkapkan pernyataan Gardner yang mendefinisikan “kecerdasan eksistensial sebagai minat pada masalah-masalah pokok kehidupan”.
Dari penjelasan di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa kecerdasan eksistensial merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan falsafah diri, refleksi diri akan keberadaan didunia ini serta masalah-masalah kehidupan.
E.     Poin-Poin Kunci dalam Teori Intelegensi Ganda
Disamping mempelajari kesembilan kecerdasan tersebut, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam teori intelegensi ganda yang merupakan kunci dari intelegensi ganda tersebut, yaitu:
1.      Setiap Orang memiliki semua kecerdasan-kecerdasan itu.
Teori Kecerdasan bukanlah “teori jenis” untuk menentukan satu kecerdasan yang sesuai. Teori intelegensi ganda merupakan teori kognitif yang menyatakan bahwa setiap orang memiliki kapasitas dalam semua kecerdasan tersebut.
2.      Orang yang pada umumnya dapat mengembangkan setiap kecerdasan sampai pada tingkat penguasaan yang memadai.
Gardner berpendapat bahwa setiap orang sebenarnya memiliki kemampuan mengembangkan semua kecerdasan tersebut sampai pada tingkat tinggi yang memadai apabila ia memperoleh cukup dukungan, pengayaan, dan pengajaran.
3.      Kecerdasan-kecerdasan umumnya bekerja bersamaan dengan cara yang kompleks.
Gardner menunjukan bahwa setiap kecerdasan yang dijelaskan sebenarnya hanyalah rekaan, yakni tidak ada kecerdasan yang berdiri sendiri dalam kehidupan sehari-hari.
4.      Ada banyak cara untuk menjadi cerdas dalam setiap kategori
Teori kecerdasan ganda menekankan keanekaragaman cara orang menunjukan bakat, baik dalam satu kecerdasan tertentu maupun antarkecerdasan (Amstrong, 2003:16-18).
F.     Strategi Pengajaran menggunakan Intelegensi Ganda
Lebih lanjut lagi Amstrong menjelaskan beberapa strategi pengajaran yang harus diperhatikan dalam pengajaran intelegensi ganda. Secara umum strategi-strategi tersebut akan kita bahas pada masing-masing kesembilan kecerdasan tersebut.
Intelegensi linguistik, dapat dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bercerita tentang apapun yang mereka alami pada hari tersebut, kemudian bisa juga dengan menuliskan kembali materi pelajaran yang telah disampaikan oleh gurunya. Dengan kata lain ketika seorang guru mengajarkan suatu topic, maka di akhir proses pembelajaran hendaklah siswa diberikan kesempatan untuk mengungkapkan atau menulis kesimpulan dari materi yang disampaikan guru tersebut dengan bahasa mereka sendiri.
Intelegensi Matematis Logis, kecerdasan ini dapat dilakukan dengan menghitung, mengelompokkan, membuat kesimpulan ilmiah dari proses Ilmiah yang telah dilakukan. Misalnya saja ketika guru memberikan suatu topik atau tema yang membutuhkan penalaran ilmiah untuk menyelesaikan persoalan tersebut, maka kemudian guru meminta agar penyelesaian masalah tersebut harus dilakukan dengan metode ilmiah.
Intelegensi Ruang Visual, dapat dilakukan dengan memberikan visualisasi materi pelajaran kepada siswa, untuk memberikan gambaran kepada siswa terkait dengan tema yang disampaikan oleh guru, misalnya ketika membahas tema tentang hutan. Kemudian guru meminta kepada siswa untuk menggambarkan apa yang telah mereka fikirkan ketika mereka memejamkan mata.
Intelegensi kinestetis badani, intelegensi kinestetis dapat dilakukan dengan respon tubuh atau ekspresi tubuh. Misalnya ketika guru meminta siswa mengangkat tangan ketika mereka dapat memahami pelajaran yang telah disampaikan.
Intelegensi musikal, dapat dilakukan dengan memberikan kesempatan dan tugas kepada siswa untuk bernyanyi, menciptakan lagu serta membuat materi dalam bentuk lagu.
Intelegensi interpersonal, dapat dilakukan dengan membuat diskusi kelompok, kemudian bisa juga dengan sharing antar teman dan lain sebagainya.
Intelegensi intrapersonal, dapat dilakukan dengan membuat atau menciptakan sesi refleksi diri selama beberapa menit setelah pelajaran selesai, agar siswa dapat merenungi diri apa saja yang telah mereka lakukan beberapa menit yang telah lalu.
Intelegensi lingkungan, dapat dilakukan dengan mengaitkan materi pelajaran seperti yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, bisa juga dengan jalan-jalan kealam terbuka, misalnya taman wisata atau berkemah di hutan dan lain sebagainya (Amstrong, 2003: 100-128).
Intelegensi eksistensi, yaitu intelegensi yang dapat dilakukan dengan cara mengajak siswa untuk memikirkan tentang keberadaannya di dunia atau tentang penciptaan dunia ini (Suparno, 2009: 92)
G.    Implementasi Kecerdasan Ganda Dalam Proses Pembelajaran
Implementasi teori kecerdasan ganda yang di cetus oleh Howard Gardner banyak memberikan sumbangan dalam proses pembelajaran, lebih-lebih di Amerika Serikat, bahkan di Indonesia pun kini banyak di gunakan dalam implementasi pembelajaran. Berikut akan dijelaskan beberapa implementasi Teori Intelegensi ganda dalam pembelajaran.
1.      Implementasi teori Kecerdasan ganda dalam aspek kurikulum
Beberapa tahun belakangan bahwa teori kecerdasan ganda telah banyak memberikan input bagi kurikulum di Indonesia, misalnya saja, dari segi pengaturan materi pelajaran yang bersifat tematik, proses pembelajaran tematik telah banyak dilakukan diaplikasikan di sekolah-sekolah dasar dan sekolah menengah dengan diterapkannya buku-buku pelajaran terpadu seperti IPA Terpadu dan IPS Terpadu. Tidak hanya itu dengan adanya pengaruh teori kecerdasan ganda metode mengajar guru yang dahulunya bersifat konvensional sekarang menjadi lebih bervariasi.
2.      Implementasi dalam Pengaturan Kelas
Saat ini telah banyak berkembang model-model pembelajaran yang menekankan pada pengelolaan kelas dalam proses belajar mengajar. Model-model pembelajaran yang bervariasi dapat meningkatkan motivasi siswa sehingga mereka tidak merasa bosan dan tidak jenuh ketika proses belajar mengajar berlangsung. Salah satu yang mungkin sering kita dengar yaitu model pembelajaran karyawisata, yang bertujuan menghadirkan obyek langsung kepada siswa seperti berkunjung ke museum, hutan, atau tempat-tempat yang menarik lainnya. Dengan model ini siswa akan memunculkan kecerdasan-kecerdasan yang berbeda, siswa akan berkembang dengan mengekspresikan apa yang mereka alami dan temukan.
3.      Terhadap Evaluasi
Peran teori intelegensi ganda banyak diterapkan di ranah perguruan tinggi, penerapan teori intelegensi ganda untuk sekolah dasar ataupun menengah masih belum terlalu banyak berkembang, namun proses untuk mengembangkan siestem evaluasi yang diterapkan teori intelegensi ganda sudah ada dan sedang dikembangkan, lebih-lebih penerapan kurikulum baru yang menggunakan pendekatan scientific, tentu saja dalam pengembangannya nanti evaluasi hasil belajar siswa akan lebih banyak di evaluasi dari kegiatan-kegiatan sehari-hari, mulai dari keaktifan siswa, kerja kelompok dan lain sebagainya.
4.      Dampak Terhadap Pendidikan Nilai
Pada Kurikulum KTSP kita ketahui bahwa tujuan dari penerapan kurikulum KTSP adalah dalam rangka menanamkan pendidikan berkarakter kepada siswa. Sehingga dalam setiap materi yang dimuat dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) diharapkan bisa menanamkan dan menumbuhkan nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari, seperti kejujuran, rasa tanggung jawab dan lain sebagainya. Saat ini penerapan pendidikan karakter yang mengharapkan tertanamnya nilai-nilai luhur kepada siswa masih terus dikembangkan untuk melahirkan generasi-generasi penerus bangsa yang memiliki karakter-karakter yang diharapkan untuk menyongsong masa depan.
5.      Sekolah Individual
Dengan munculnya teori kecerdasan ganda, tidak hanya merubah system kurikulum dan yang lainnya, lahirnya teori kecerdasan ganda juga memicu lahirnya sekolah-sekolah individu yang istilahnya mungkin tidak asing kita dengar yaitu yang biasa disebut dengan istilah sekolah private.














BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Setiap manusia yang lahir ke dunia sudah memiliki kecerdasan yang dianugerahkan tuhan kepada manusia itu sendiri, dan setiap manusia memiliki banyak kecerdasan dalam dirinya hanyasaja kecerdasan-kecerdasan yang mereka miliki tidak semuanya dapat menonjol hanya orang-orang tertentu saja yang dapat menonjolkan beberapa kecerdasan -kecerdayang mereka miliki. Kecerdasan-kecerdasan tersebut dapat ditingkatkan dan dikembangkan melalui pendidikan yaitu melalui proses pembelajaran, tidak hanya itu dalam proses pembelajaran guru harus mampu merancang model-model pembelajaran dengan mengintegrasikan media-media yang relevan untuk dapat menumbuhkan serta mengembangkan kcerdasan-kecerdasan siswa yang masih terpendam.
Adapun Kecerdasan-kecerdasan tersebut yaitu, kecerdasan linguistik, kecerdasan matematis-logis, kecerdasan kinestetik-badani, kecerdasan musical, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan lingkungan serta kecerdasan eksistensial. Masing-masing kecerdasan tersebut sudah ada dalam diri setiap manusia, hanya saja tidak semua kecerdasan menonjol, orang yang pandai berpidato belum tentu pandai dalam dalam bidang musik, begitu juga sebaliknya.
Adapun implementasi teori kecerdasan ganda dalam proses pembelajaran dapat kita lihat dengan banyak munculnya sekolah private, home scholling, kamudian banyak kita lihat karyawisata yang mengajak siswa untuk melakukan pembelajaran diluar kelas, dimana hal tersebu merupakan salah satu bentuk implementasi teori kecerdasan ganda dalam proses pembelajaran yang dilakukan di Negara kita, Negara Indonesia.
B.     Saran
Berdasarkan pemaparan makalah di atas, ada beberapa hal yang perlu kiranya penyusun sampaikan kepada pihak-pihak yang begelut dalam bidang kependidikan baik itu guru, siswa maupun para praktisi pendidikan. Adapun saran yang dapat penulis sampaikan yaitu:
1.      Setiap orang memiliki semua kecerdasan yang telah dibahas di atas, setiap kecerdasan bisa ditingkatkan dan dikembangkan melalui pendidikan.
2.      Guru hendaknya mampu mengembangkan diri untuk membantu mengembangkan kecerdasan-kecerdasan yang dimiliki oleh siswa dengan terus belajar dan belajar untuk meningkatkan kemampuan yang mereka miliki untuk dapat mengembangkannya dalam proses belajar mengajar.
3.      Hendaknya guru mampu menciptakan model-model pembelajaran yang bervariasi yang diintegrasikan dengan media pembelajaran yang dapat merangkul semua kecerdasan yang dimiliki oleh siswa


















Daftar Pustaka
Amstrong, Thomas. 2003. Sekolah Para Juara Menerapkan Multiple Intelegences di Dunia Pendidikan. Bandung: Kaifa.
Asri Budiningsih, C. 2012. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Azwar, Saifuddin. 2010. Pengantar Psikologi Intgelegensi. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Jasmine, Julia. 2012.  Metode Mengajar Multiple Intelegences. Bandung: Nuansa Cendekia.
Prawira, Atmaja. P. 2013. Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Safaria, T. 2005. Interpersonal intelegence: Metode Pengembangan Kecerdasan Interpersonal Anak. Yogyakarta: Amara Books.
Suparno, Paul. 2009. Teori Intelegensi Ganda dan Aplikasinya di Sekolah. Yogyakarta: Kanisius.

About the Author

Muhammad Alwan

Blogger

I am the founder of this blog if you like my tuts , follow me

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Popular Posts