PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Kecerdasan (Intelegence) selama ini kita ketahui
sebagai sebuah kemampuan didalam belajar, memahami suatu permasalahan yang ada
serta mampu menyelesaikan permasalahan tersebut atau kemampuan berpendapat yang
berasal dari fikiran seseorang tersebut. Kecerdasan dalam hal ini hanya
dianggap sebagai suatu kemampuan intelektual yang lebih menekankan pada
kemampuan logika seseorang, kecerdasan ini dipahami sebagai kemampuan dalam
menjawab soal-soal tes yang diberikan ketika sedang ujian diruang kelas. Belakangan
ini mungkin tidak asing ditelinga kita istilah Intelegence Quation (IQ) yang
seringkali dan bahkan selalu digunakan dalam menetapkan tolak ukur untuk
mengetahui tingkat kecerdasan seseorang, sehingga seolah-olah orang yang
mempunyai IQ yang tinggi maka kita memposisikan orang tersebut sebagai orang
serba bisa dan memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan orang lain.
Mind
Set
masyarakat yang masih bersifat primitif dalam memahami sebuah arti kecerdasan
perlu di reset kembali untuk
memberikan pencerahan yang tidak sekedar merubah pola fikir mereka yang masih
sempit dalam memahami makna suatu kecerdasan namun juga untuk membuka wawasan
mereka agar memiliki pola fikir yang luas untuk memahami bahwa pada dasarnya
manusia tidak hanya memiliki sebatas IQ saja tetapi manusia memiliki banyak
jenis kecerdasan yang terdapat didalam dirinya. Kemampuan yang dimiliki
tersebut perlu diasah dan dikembangkan karena kemampuan tersebut masih
tersembunyi didalam diri seseorang.
Menurut Gardner
intelegensi seseorang bukan dapat hanya diukur dengan tes tertulis, melainkan
lebih cocok dengan cara bagaimana orang itu memecahkan persoalan dalam hidup
nyata, intelegensi seseorang dapat dikembangkan lewat pendidikan dan
intelegensi itu banyak jumlahnya.
Berdasarkan
latar pemikiran di atas, maka dalam isi makalah ini kami akan memaparkan
tentang kecerdasan-kecerdasan yang dimiliki oleh setiap orang serta bagaimana
aplikasi teori kecerdasan ganda dalam proses pembelajaran sehingga diharapkan
persepsi masyarakat yang masih menganggap bahwa kecerdasan itu hanya dapat
diukur dengan tes tertulis dapat mengubah cara pandang mereka dalam memaknai
teori kecerdasan tersebut.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka
di rumuskan beberapa permasalahan yaitu:
1. Bagaimana
awal mula lahirnya kecerdasan ganda?
2. Apakah
Definisi Kecerdasan?
3. Apa
yang melandasai teori lahirnya Teori Kecerdasan Ganda?
4. Ada
berapa Macam Kecerdasan-kecerdasan yang kita miliki sebenarnya?
5. Bagaimana
implementasi teori kecerdasan ganda dalam dunia pendidikan?
C.
Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas,
maka dapat tujuan dari pembahasan makalah ini adalah
1. Untuk
mengetahui bagaimana asal mula munculnya Teori Kecerdasan Ganda
2. Untuk
memahami makna kecerdasan yang sebenarnya.
3. Mengetahui
teori-teori yang melandasi lahirnya teori kecerdasan ganda.
4. Mengetahui
macam kecerdasan yang terdapat dalam setiap manusia.
5. Untuk
mengetahui sejauh mana implementasi teori kecerdasan ganda dalam proses belajar
mengajar.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah
Munculnya Teori Kecerdasan Ganda
Teori intelegensi ganda (Multiple Intelegence) ditemukan dan
dikembangkan oleh Howard Gardner, seorang ahli psikologi perkembangan dan
profesor pendidikan dari graduate School of Education, Harvard university,
Amerika Serikat. Ia menuliskan gagasannya tentang intelegensi ganda dalam
bukunya Frames of Mind pada tahun 1983. Pada tahun 1993 ia mempublikasikan
bukunya berjudul multiple intelegence, setelah melakukan banyak penelitian
tentang implikasi teori intelegensi ganda didunia pendidikan. Teori itu
dilengkapi lagi dengan terbitnya buku intelegence reframed pada tahun 2000.
Selama tahun 1983 sampai dengan 2003 Gardner, yang juga menjadi Direktur Proyek
Zero di Harvard University, banyak menulis dan mengembangkan teori intelegensi
ganda dan terutama aplikasinya dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat.
Proyek Zero adalah pusat penelitian dan pendidikan yang mengembangkan cara
belajar, berfikir dan kreatifitas dalam mempelajari suatu bidang bagi individu
dan intuisi. Teori intelegensi ganda banyak mendasari proyek Zero.
Gardner mengatakan bahwa intelegensi bukan hanya
kemampuan seseorang untuk menjawab suatu tes IQ dalam kamar tertutup yang lepas
dari lingkungannya. Intelegnsi memuat kemampuan memecahkan persoalan yang nyata
dalam situasi yang berbeda-beda. Tekanan pada persoalan nyata ini sangat
penting bagi Gardner karena seseorang baru sungguh berintelegensi tinggi bila
dia dapat menyelesaikan persoalan dalam hidup nyata, bukan hanya dalam teori.
Gardner membedakan antara intelegensi lama yang
diukur dengan IQ dan intelegensi ganda yang ia temukan. Dalam pengertian lama,
intelegensi seseorang dapat diukur dengan tes tertulis (tes IQ), IQ seseorang
tetap sejak lahir dan tidak dapat dikembangkan secara signifikan, yang menonjol
dalam pengukuran IQ adalah kemampuan matematis logis dan linguistik. Sedangkan
menurut Gardner, intelegensi seseorang bukan dapat hanya diukur dengan tes
tertulis, melainkan lebih cocok dengan cara bagaimana orang itu memecahkan
persoalan dalam hidup nyata, intelegensi seseorang dapat dikembangkan lewat
pendidikan, dan intelegensi itu banyak jumlahnya (Suparno, 2009: 17-19).
B.
Pengertian
Kecerdasan (intelegence)
Para ahli dalam
memberikan penjelasan tentang arti istilah selalu mengacu pada aspek-aspek yang
berbeda-beda dan dengan pendekatan yang berbeda-beda pula. Begitu juga dalam
memberikan makna tentang kecerdasan, berikut ini beberapa pendapat para ahli
dalam memaparkan pengertian kecerdasan ditinjau dari beberapa aspek yaitu:
Vernon
menggolongkan definisi kecerdasan menjadi tiga kategori yaitu:
1. Ditinjau
dari ilmu biologi, kecerdasan ditafsirkan sebagai kemampuan dasar manusia yang
secara relatif diperlukan untuk penyesuaian diri pada alam sekitar.
2. Kecerdasan
ditinjau dari secara psikologis, menurut Burt kecerdasan merupakan kemampuan
kognitif umum yang dibawa individu sejak lahir, sedangkan menurut D.O. Hebb dan
R.B. Cattell membedakan menjadi dua tipe arti kecerdasan yaitu, Tipe A (Fluid Intelegence) adalah potensialitas
keturunan atau kualitas pembawaan pada sistem syaraf dasar seseorang. Kemudian
Tipe B (crystallized intelegence)
adalah kecerdasan yang dibentuk oleh pengalaman belajar dan factor-faktor alam
sekitar, baik fisik maupun masyarakat sosial.
3. Secara
operasional kecerdasan didefinisikan dalam pelaksanaan atau dalam aplikasinya
secara operasional dengan menggunakan istilah-istilah pasti (Prawira, 2013:
136-139).
Berdasar
Definisi di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa definisi tersebut menekankan
kepada tiga kawasan bidang kajian yang mana ditinjau dari ranah keilmuan
biologi, kemudian psikologi dan dari segi operasional, dari ketiga kawasan
tersebut kita dapat menarik benang merah bahwa sebenarnya hal tersebut
merupakan rentetan atau urutan dari kecerdasan yang dimulai dari proses
biologis yaitu sejak awal manusia itu lahir, kemudian terus berkembang sampai
ke proses dewasa dengan kemampuan-kemampuan yang dimiliki hingga mencapai
kematangan yang kemudian dapat diaplikasikan dalam kehidupan yang lebih kongkrit.
Kemudian
Freeman dalam Prawira (2013: 139) juga mendefinisikan bahwa “kecerdasan
dipandang sebagai suatu kemampuan yang dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu
kemampuan adaptasi, kemampuan belajar, dan kemampuan befikir abstrak”.
Berdasarkan
definisi yang dijabarkan oleh Freeman kita dapat memahami bahwa kecerdasan yang
terdapat dalam diri kita terdiri dari tiga bagian, dimana setiap bagian-bagian
tersebut nantinya akan melahirkan beberapa jenis kemampuan yang kita miliki,
misalnya saja kemampuan adaptasi yaitu kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungan sekitar baik dengan masyarakat atau lingkungan tempat tinggal kita,
kecerdasan adaptasi ini akan melahirkan kecerdasan yang disebut dengan
interpersonal dalam diri kita yang nantinya akan kita bahas di pembahasan
selanjutnya. Kemudian yang kedua kemampuan belajar nantinya akan melahirkan
ranah kecerdasan yang lebih luas lagi, baik itu kemampuan berbahasa, bermusik
dan lain sebagainya karena kemampuan belajar memiliki cakupan yang luas,
kemudian yang terakhir yaitu kemampuan berfikir abstrak, kemampuan ini
berhubungan dengan para scientist, kemampuan ini akan melahirkan istilah
kecerdasan matematis-logis.
Sedangkan
D. Wechsler berpendapat bahwa “kecerdasan adalah kumpulan kapasitas atau
kapasitas global individu untuk berbuat menurut tujuannya secara tepat,
berfikir secara rasional, dan mengahadapi alam sekitar secara efektif”
(Prawira,2013: 141) . Berdasarkan pandangan Wechsler dapat kita ketahui bahwa
didalam diri kita terdapat sekumpulan kapasitas yang memiliki memiliki
ketepatan dalam bertindak sesuai dengan tujuan yang diinginkan dengan mengacu
kepada pertimbangan rasionalitas individu itu sendiri.
Menurut Gardner “kecerdasan
merupakan kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam
suatu seting yang bermacam-macam dan dalam situasi yang nyata” (Suparno, 2009:
17). Pendapat Gardner di atas memberikan kita sebuah informasi bahwa seseorang
dikatakan memiliki kecerdasan apabila mampu memecahkan permasalahan yang
dihadapi, tidak hanya itu, dimana kemudian dengan terpecahnya masalah tersebut
akan menimbulkan masalah yang baru untuk dipecahkan oleh generasi yang
selanjutnya sebagai pengembangan kecerdasan yang lebih maju lagi.
C.
Landasan
Teori Intelegensi Ganda (Kriteria Keabsahan Munculnya Teori Kecerdasan Ganda)
Gardner
menjelaskan bahwa “kemampuan-kemampuan yang dimasukan dalam intelegensi ganda
haruslah memenuhi delapan kriteria yang sering digunakan untuk menentukan
apakah kemampuan itu sungguh suatu intelegensi” (Suparno, 2009: 21). Delapan kriteria
tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Terisolasi
dalam bagian otak tertentu
Kemampuan
yang dimiliki bersifat otonom, artinya terpisah dengan kemampuan yang lain
serta terisolasi dari kecerdasan-kecerdasan yang lain. Bila kemampuan seseorang
hilang karena kerusakan otak, maka kerusakan tersebut tidak akan mempengaruhi
kemampuan yang lainnya dan tidak akan terganggu juga. Karena yang akan
terganggu hanya bagian yang rusak tadi.
2. Kemampuan itu independent
Dalam
kehidupan ini tentu kita sering menjumpai bahwa manusia diciptakan
berbeda-beda, ada yang sempurna dan adapula yang hidup dengan
kekurangan-kekurangan yang dimilikinya, misalnya sering kita mendengar kasus
orang yang pandai tetapi idiot(idiot
savant), orang autis. Pada kasus seperti itu, orang tersebut memiliki
kemampuan dalam hal tertentu, tetapi dibalik kemampuan yang mereka miliki ada
ketidakmampuan yang mereka tidak miliki atau istilahnya mereka lemah dalam hal
lain. Dari sini dilihat bahwa kemampuan seseorang bersifat independen.
3.
Memuat
satuan operasi khusus
Setiap
intelegensi mengandung keterampilan operasi tertentu yang berbeda satu sama
lain dan dengan keterampilan operasi itu seseorang dapat mengekspresikan
kemampuannya dalam menghadapi persoalan.
4.
Mempunyai
sejarah perkembangan sendiri
Setiap
inteleghensi memiliki sejarah perkembangannya tersendiri, mempunyai waktunya
sendiri untuk berkembang, menuju puncak lalu kemudian akan turun, seperti karir
sesorang yang pada puncaknya menjadi seorang yang professional.
5.
Berkaitan
dengan sejarah evolusi zaman dulu
Setiap
intelegensi yang sekarang ini dapat dicari awalnya dari evolousi (perkembangan)
manusia kuno, bahkan dari evolusi spesies lain, bukan hanya terjadi sekarang
ini.
6.
Dukungan
psikologi eksprimental
Dari
tugas-tugas psikologis yang diberikan tampak bahwa intelegensi bekerja secara
terisolasi.
7.
Dukungan
dari penemuan psikometrik
Dari
beberapa tes psikologi yang terstandar dapat diyakini bahwa intelegensi yang
ditemukan Gardner memang benar. Misalnya, Wechsler intelegence scale for
children yang mengandung tes intelegensi linguistic, matematis-logis, visual
dan kinestetik-badani.
8.
Dapat
disimbolkan
Salah
satu tanda tingkah intelegensi manusia adalah kemampuannya untuk menggunakan
symbol dalam hidup (Suparno, 2009: 23-25).
Lebih
lanjut lagi Asri Budiningsih dalam bukunya juga memberikan Kriteria keabsahan
munculnya teori kecerdasan alam.
1.
Memiliki
dasar biologis
Kecendrungan
untuk mengetahui dan memecahkan masalah merupakan sifat dasar biologis/fisiologis
manusia.
2.
Bersifat
universal bagi spesies manusia
Setiap
cara untuk memahami selalu ada pada setiap budaya, tidak peduli kondisi
sosio-ekonomi dan pendidikannya.
3.
Nilai
budaya suatu keterampilan
Cara
untuk memahami sesuatu didukung oleh budaya manusia dan merupakan hal yang
harus diteruskan kepada generasi penerus.
4.
Memiliki
basis neurologi
Setiap
kecerdasan memiliki bagian tertentu pada otak sebagai pusat kerjanya, dan yang
dapat diaktifkan atau dipicu oleh informasi internal maupun eksternal.
5.
Dapat
dinyatakan dalam bentuk symbol.
Setiap
kecerdasan dapat dinyatakan dalam bentuk symbol atau tanda-tanda tertentu
(Budiningsih, 2012: 116-117).
D.
Macam-Macam
Intelegensi Ganda
1.
Intelegensi
Linguistik
“Intelegensi
linguistik memuat kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa dan kata-kata,
secara tertulis maupun lisan, dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk
mengekspresikan gagasannya” (Prawira, 2013 : 154).
Gardner
menjelaskan “intelegensi linguistik sebagai kemampuan untuk menggunakan dan
mengolah kata secara efektif baik secara oral maupun tertulis seperti dimiliki
para pencipta puisi, editor, jurnalis, dramawan, sastrawan, pemain sandiwara,
maupun orator” (Suparno, 2009: 26).
Dalam
buku metode mengajar Multiple Intelegences (Jasmine, 2012: 17-18) mengatakan
juga :
“Orang
yang memiliki kecerdasan ini juga memiliki keterampilan audiotori (berkaitan
dengan pendengaran) yang sangat tinggi, dan mereka belajar melalui mendengar.
Mereka gemar membaca, menulis, dan berbicara, dan suka bercengkrama dengan
kata-kata. Mereka mengkhidmat kata-kata bukan hanya untuk makna tersurat dan
tersiratnya semata namun juga bentuk dan bunyinya, serta untuk citra yang
tercipta ketika kata-kata dirancang-reka dalam cara yang lain dan berbeda dari
yang biasa”.
Berdasarkan beberapa
definisi di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa kecerdasan lingustik
merupakan kecerdasan yang berhubungan kemampuan seseorang dalam bahasa,
merangkai kata-kata didalam malakukan komunikasi dengan orang lain dan membuat
orang lain tertarik untuk mendengar, selain itu kemampuan linguistik juga
berhubungan dengan kemampuan mendengar dan serta dapat langsung menyerap apapun
yang disampaikan oleh orang lain.
2.
Intelegensi
Matematis-Logis
Menurut
Prawira bahwa “Intelegensi Matematis Logis Memuat kemampuan seseorang dalam
berfikir secara induktif dan deduktif, kemampuan berfikir menurut aturan logika,
memahami dan menganalisis pola angka-angka, serta memecahkan masalah dengan
menggunakan kemampuan berfikir” (Prawira, 2012: 153).
Gardner
juga menambahkan bahwa “yang termasuk dalam intelegensi tersebut adalah
kepekaan pada pola logika, abstraksi, kategorisasi, dan perhitungan” (Suparno,
2009: 29).
Intelegensi
matematik logis adalah “intelegensi yang digunakan untuk memecahkan problem
berbentuk logika simbolis dan matematika abstrak” (Azwar, 2010:42).
Dalam
buku metode mengajar Multiple
Intelegences disebutkan bahwa “kecerdasan logis matematis berhubungan
dengan dan mencakup kemampuan ilmiah. Orang dengan kecerdasan ini gemar bekerja
dengan data, mengumpulkan dan mengorganisasi, menganalisis serta
menginterpretasikan, menyimpulkan kemudian meramalkan” (Jasmine, 2012: 19).
Berdasarkan
beberapa pendapat di atas, maka dapat kita tarik sebuah kesimpulan bahwa
kecerdasan logis merupakan kecerdasan berhubungan dengan kemampuan seseorang
dalam menyelesaikan permasalahan dengan mengedepankan prinsip-prinsip metode
ilmiah, yaitu berfikir sistematis, tidak tergesa-gesa dalam menyelesaikan
masalah serta bersifat hati-hati dalam mengambil sebuah keputusan.
3.
Intelegensi
Ruang-Visual (Spatial intelegence)
“Kecerdasan
visual berkaitan misalnya senirupa, navigasi, kemampuan pandang ruang,
arsitektur, permainan catur. Kuncinya adalah kemampuan indera pandang dan berimajinasi”
(Budiningsih, 2012:114).
“Intelegensi
ruang-visual adalah kemampuan untuk menangkap dunia ruang visual secara tepat,
seperti dipunyai para pemburu, arsitek, navigator,
dan decorator. Termasuk didalamnya
adalah kemampuan untuk mengenal bentuk dan benda secara tepat, melakukan
perubahan suatu benda dalam pikirannya dan mengenali perubahan itu,
menggambarkan suatu hal/benda dalam pikiran dan mengubahnya dalam bentuk nyata,
serta mengungkapkan data dalam suatu grafik (Suparno, 2009:31).
Sedangkan
Prawira memberikan pengertian bahwa “kecerdasan spasial (ruang visual) yaitu
kemampuan seseorang untuk memahami secara lebih mendalam hubungan antara objek
dan ruang” (Prawira, 2013:155).
Dalam
buku metode mengajar Multiplie intelegences dikatakan bahwa “kecerdasan spasial
adalah kemampuan untuk membentuk dan menggunakan model mental” (Jasmine,
2012:21).
Dari
penjelasan di atas, maka kita dapat memberikan sebuah kesimpulan bahwa
kecerdasan spasial merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan imajinasi
yang disertai dengan kemampuan untuk menuangkannya menjadi ide-ide yang
konkret.
4.
Intelegensi
Kinestetis-Badani
“Intelegensi
Kinestetis-Badani memuat kemampuan seseorang untuk secara aktif menggunakan
bagian-bagian atau seluruh tubuhnya untuk berkomunikasi dan memecahkan berbagai
masalah” (Prawira, 2013:156).
Menurut
Gardner dalam Suparno (2009:34) “Kemampuan Kinestetik-Badani adalah kemampuan
menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan
seperti ada pada actor, atlet, penari, pemahat, dan ahli bedah”.
Dari
penjelasan di atas, maka dapat dikatakan bahwa kecerdasan kinestetik badani
merupakan sebuah kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan kita dalam
mengolah tubuh untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang melibatkan aktifitas.
5.
Intelegensi
Musikal
Menurut
Prawira (2013:155) kecerdasan musical adalah kemampuan seseorang untuk peka
terhadap suara-suara nonverbal yang berada disekelilingnya, termasuk nada dan
irama.
Gardner
dalam Suparno (2009:36) juga mengartikan “Intelegensi Musikal sebagai kemampuan
mengembangkan, mengekspresikan, dan menikmati bentuk-bentuk music dan suara.
Dimana didalamnya termasuk kepekaan akan ritme, melodi, dan intonasi; kemampuan
memainkan alat music, kemampuan memainkan alat music, kemampuan untuk mencipta
lagu, kemamouan untuk menikmati lagu, music, dan nyanyian”.
“Sebagian
orang menyebut kecerdasan musical sebagai kecerdasan ritmik atau kecerdasan
music/ritmik. Orang yang mempunyai kecerdasan jenis ini sangat peka terhadap
suara atau bunyi, lingkungan dan juga music” (Jasmine, 2012:22).
Maka
dapat kita tarik sebuah kesimpulan bahwa intelegensi musikal merupakan
kemampuan seseorang dalam hal music, baik itu hanya mendengar,menyanyikan lagu
ataupun menciptakan sebuah lagu.
6.
Intelegensi
Interpersonal
Menurut
Gardner bahwa “kecerdasan interpersonal adalah kecerdasan yang terlibat dalam
pengujian individual dan pengetahuan tentang perasaan sendiri” (Efendi, 2005:
157).
Kecerdasan
interpersonal atau bisa juga dikatakan kecerdasan sosial diartikan sebagai “kemampuan
dan keterampilan seseorang dalam menciptakan relasi, membangun relasi dan
mempertahankan relasi sosialnya sehingga kedua belah pihak berada dalam situasi
menang-menang atau menguntungkan” (Safaria, 2005: 23).
Kecerdasan
social mempunyai tiga dimensi yaitu:
a.
Social
sensitivity
Kemampuan
anak untuk merasakan dan mengamati reaksi-reaksi atau perubahan orang lain yang
ditunjukan baik secara verbal maupun non verbal.
b.
Social
insight
Kemampuan
untuk memahami dan mencari pemecahan masalah yang efektif dalam interaksi sosial,
sehingga masalah-masalah tersebut tidak menghambat apalagi menghancurkan relasi
sosial yang telah dibangun anak.
c.
Social
communication
Kemampuan
individu untuk menggunakan proses komunikasi dalam menjalin dan membangun interpersonal
yang sehat.(Safaria, 2005: 24-25).
Dari
uraian di atas maka dapat dikatakan kecerdasan interpersonal merupakan
kecerdasan yang berhubungan dengan muamalah, yaitu hubungan seseorang dengan
orang lain dalam menjalin hubungan social.
7.
Intelegensi
Intrapersonal
Menurut
Gardner Kecerdasan Intrapersonal “adalah kemampuan yang berkaitan dengan
pengetahuan akan diri sendiri dan kemampuan untuk bertindak secara adaptif
berdasar pengenalan diri itu” (Suparno, 2009: 41).
Sementara
Prawira mengatakan bahwa “kecerdasan intrapersonal menunjukan kemampuan
seseorang untuk peka terhadap perasaan dirinya sendiri. Anak dengan kecerdasan
intrapersonal yang tinggi menunjukan tanda-tanda mampu mengenali berbagai
kekuatan maupun kelemahan yang ada pada dirinya sendiri” (Prawira, 2013:157).
Jasmine
juga menambahkan bahwa “Kecerdasan intrapersonal tercermin dalam kesadaran
mendalam akan perasaan batin. Inilah kecerdasan yang memungkinkan seseorang
memahami diri sendiri, kemampuan dan pilihannya sendiri” (Jasmine, 2012:27).
Maka
dapat dikatakan bahwa Kemampuan intrapersonal merupakan kemampuan merefleksikan
diri serta memuhasabah diri akan segala peristiwa-peristiwa yang telah di
lewati oleh seseorang dalam hidupnya.
8.
Intelegensi
Lingkungan
“Merupakan
kemampuan seseorang untuk peka terhadap lingkungan alam” (Prawira, 2013:158).
Gardner
menjelaskan intelegensi lingkungan sebagai “kemampuan seseorang untuk dapat
mengerti flora dan fauna dengan baik, dapat membuat distingsi konsekuensial
lain dalam alam natural, kemampuan untuk memahami dan menikmati alam, dan
menggunakan kemampuan itu secara produktif dalam berburu, bertani, dan
mengembangkan pengetahuan akan alam” (Suparno, 2009:42).
Sedangkan
Safaria (2005: 23) mengatakan kecerdasan naturalis akan menunjukan kemampuan
anak dalam memahami gejala-gejala alam, memperlihatkan kesadaran ekologis, dan
menunjukan kepekaan terhadap bentuk-bentuk alam.
Berdasarkan
penjelasan di atas, maka yang dapat disimpulkan bahwa intelegensi naturalis
atau lingkungan adalah kecerdasan yang berhubungan dengan kepedulian seseorang
terhadap lingkungan, baik menyangkut kelestarian hidup hewan disekitar maupun
kelestarian lingkungan hidup yang menyangkut tumbuh-tumbuhan.
9.
Intelegensi
Eksistensial
Gardner
mengungkapkan bahwa “Intelegensi ini menyangkut kepekaan dan kemampuan
seseorang menjawab persoalan-persoalan terdalam eksistensi atau keberadaan
manusia” (Suparno, 2009:43-43).
“Kecerdasan
eksistensial banyak dijumpai pada para filusuf. Mereka mampu menyadari dan
menghayati dengan benar keberadaan dirinya di dunia ini dan apa tujuan hidupnya”
(Budiningsih, 2012: 116).
Amstrong
(2003:250) dalam bukunya juga mengungkapkan pernyataan Gardner yang
mendefinisikan “kecerdasan eksistensial sebagai minat pada masalah-masalah
pokok kehidupan”.
Dari
penjelasan di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa kecerdasan eksistensial
merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan falsafah diri, refleksi diri akan
keberadaan didunia ini serta masalah-masalah kehidupan.
E.
Poin-Poin
Kunci dalam Teori Intelegensi Ganda
Disamping
mempelajari kesembilan kecerdasan tersebut, ada beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam teori intelegensi ganda yang merupakan kunci dari
intelegensi ganda tersebut, yaitu:
1.
Setiap
Orang memiliki semua kecerdasan-kecerdasan itu.
Teori
Kecerdasan bukanlah “teori jenis” untuk menentukan satu kecerdasan yang sesuai.
Teori intelegensi ganda merupakan teori kognitif yang menyatakan bahwa setiap
orang memiliki kapasitas dalam semua kecerdasan tersebut.
2.
Orang
yang pada umumnya dapat mengembangkan setiap kecerdasan sampai pada tingkat
penguasaan yang memadai.
Gardner
berpendapat bahwa setiap orang sebenarnya memiliki kemampuan mengembangkan
semua kecerdasan tersebut sampai pada tingkat tinggi yang memadai apabila ia
memperoleh cukup dukungan, pengayaan, dan pengajaran.
3.
Kecerdasan-kecerdasan
umumnya bekerja bersamaan dengan cara yang kompleks.
Gardner
menunjukan bahwa setiap kecerdasan yang dijelaskan sebenarnya hanyalah rekaan,
yakni tidak ada kecerdasan yang berdiri sendiri dalam kehidupan sehari-hari.
4.
Ada
banyak cara untuk menjadi cerdas dalam setiap kategori
Teori
kecerdasan ganda menekankan keanekaragaman cara orang menunjukan bakat, baik
dalam satu kecerdasan tertentu maupun antarkecerdasan (Amstrong, 2003:16-18).
F.
Strategi
Pengajaran menggunakan Intelegensi Ganda
Lebih lanjut
lagi Amstrong menjelaskan beberapa strategi pengajaran yang harus diperhatikan
dalam pengajaran intelegensi ganda. Secara umum strategi-strategi tersebut akan
kita bahas pada masing-masing kesembilan kecerdasan tersebut.
Intelegensi
linguistik, dapat dilakukan dengan memberikan
kesempatan kepada siswa untuk bercerita tentang apapun yang mereka alami pada
hari tersebut, kemudian bisa juga dengan menuliskan kembali materi pelajaran
yang telah disampaikan oleh gurunya. Dengan kata lain ketika seorang guru
mengajarkan suatu topic, maka di akhir proses pembelajaran hendaklah siswa
diberikan kesempatan untuk mengungkapkan atau menulis kesimpulan dari materi
yang disampaikan guru tersebut dengan bahasa mereka sendiri.
Intelegensi
Matematis Logis, kecerdasan ini dapat dilakukan dengan
menghitung, mengelompokkan, membuat kesimpulan ilmiah dari proses Ilmiah yang
telah dilakukan. Misalnya saja ketika guru memberikan suatu topik atau tema
yang membutuhkan penalaran ilmiah untuk menyelesaikan persoalan tersebut, maka
kemudian guru meminta agar penyelesaian masalah tersebut harus dilakukan dengan
metode ilmiah.
Intelegensi
Ruang Visual, dapat dilakukan dengan memberikan
visualisasi materi pelajaran kepada siswa, untuk memberikan gambaran kepada
siswa terkait dengan tema yang disampaikan oleh guru, misalnya ketika membahas
tema tentang hutan. Kemudian guru meminta kepada siswa untuk menggambarkan apa
yang telah mereka fikirkan ketika mereka memejamkan mata.
Intelegensi
kinestetis badani, intelegensi kinestetis dapat dilakukan
dengan respon tubuh atau ekspresi tubuh. Misalnya ketika guru meminta siswa
mengangkat tangan ketika mereka dapat memahami pelajaran yang telah
disampaikan.
Intelegensi
musikal, dapat dilakukan dengan memberikan kesempatan dan
tugas kepada siswa untuk bernyanyi, menciptakan lagu serta membuat materi dalam
bentuk lagu.
Intelegensi
interpersonal, dapat dilakukan dengan membuat diskusi
kelompok, kemudian bisa juga dengan sharing antar teman dan lain sebagainya.
Intelegensi
intrapersonal, dapat dilakukan dengan membuat atau
menciptakan sesi refleksi diri selama beberapa menit setelah pelajaran selesai,
agar siswa dapat merenungi diri apa saja yang telah mereka lakukan beberapa
menit yang telah lalu.
Intelegensi
lingkungan, dapat dilakukan dengan mengaitkan materi
pelajaran seperti yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, bisa juga dengan
jalan-jalan kealam terbuka, misalnya taman wisata atau berkemah di hutan dan
lain sebagainya (Amstrong, 2003: 100-128).
Intelegensi
eksistensi, yaitu intelegensi yang dapat dilakukan
dengan cara mengajak siswa untuk memikirkan tentang keberadaannya di dunia atau
tentang penciptaan dunia ini (Suparno, 2009: 92)
G.
Implementasi
Kecerdasan Ganda Dalam Proses Pembelajaran
Implementasi
teori kecerdasan ganda yang di cetus oleh Howard Gardner banyak memberikan
sumbangan dalam proses pembelajaran, lebih-lebih di Amerika Serikat, bahkan di
Indonesia pun kini banyak di gunakan dalam implementasi pembelajaran. Berikut
akan dijelaskan beberapa implementasi Teori Intelegensi ganda dalam
pembelajaran.
1.
Implementasi
teori Kecerdasan ganda dalam aspek kurikulum
Beberapa
tahun belakangan bahwa teori kecerdasan ganda telah banyak memberikan input bagi kurikulum di Indonesia,
misalnya saja, dari segi pengaturan materi pelajaran yang bersifat tematik,
proses pembelajaran tematik telah banyak dilakukan diaplikasikan di
sekolah-sekolah dasar dan sekolah menengah dengan diterapkannya buku-buku
pelajaran terpadu seperti IPA Terpadu dan IPS Terpadu. Tidak hanya itu dengan
adanya pengaruh teori kecerdasan ganda metode mengajar guru yang dahulunya
bersifat konvensional sekarang menjadi lebih bervariasi.
2.
Implementasi
dalam Pengaturan Kelas
Saat
ini telah banyak berkembang model-model pembelajaran yang menekankan pada
pengelolaan kelas dalam proses belajar mengajar. Model-model pembelajaran yang
bervariasi dapat meningkatkan motivasi siswa sehingga mereka tidak merasa bosan
dan tidak jenuh ketika proses belajar mengajar berlangsung. Salah satu yang
mungkin sering kita dengar yaitu model pembelajaran karyawisata, yang bertujuan
menghadirkan obyek langsung kepada siswa seperti berkunjung ke museum, hutan,
atau tempat-tempat yang menarik lainnya. Dengan model ini siswa akan
memunculkan kecerdasan-kecerdasan yang berbeda, siswa akan berkembang dengan
mengekspresikan apa yang mereka alami dan temukan.
3.
Terhadap
Evaluasi
Peran
teori intelegensi ganda banyak diterapkan di ranah perguruan tinggi, penerapan
teori intelegensi ganda untuk sekolah dasar ataupun menengah masih belum
terlalu banyak berkembang, namun proses untuk mengembangkan siestem evaluasi
yang diterapkan teori intelegensi ganda sudah ada dan sedang dikembangkan,
lebih-lebih penerapan kurikulum baru yang menggunakan pendekatan scientific,
tentu saja dalam pengembangannya nanti evaluasi hasil belajar siswa akan lebih
banyak di evaluasi dari kegiatan-kegiatan sehari-hari, mulai dari keaktifan
siswa, kerja kelompok dan lain sebagainya.
4.
Dampak
Terhadap Pendidikan Nilai
Pada
Kurikulum KTSP kita ketahui bahwa tujuan dari penerapan kurikulum KTSP adalah
dalam rangka menanamkan pendidikan berkarakter kepada siswa. Sehingga dalam
setiap materi yang dimuat dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
diharapkan bisa menanamkan dan menumbuhkan nilai-nilai dalam kehidupan
sehari-hari, seperti kejujuran, rasa tanggung jawab dan lain sebagainya. Saat
ini penerapan pendidikan karakter yang mengharapkan tertanamnya nilai-nilai
luhur kepada siswa masih terus dikembangkan untuk melahirkan generasi-generasi
penerus bangsa yang memiliki karakter-karakter yang diharapkan untuk
menyongsong masa depan.
5.
Sekolah
Individual
Dengan
munculnya teori kecerdasan ganda, tidak hanya merubah system kurikulum dan yang
lainnya, lahirnya teori kecerdasan ganda juga memicu lahirnya sekolah-sekolah
individu yang istilahnya mungkin tidak asing kita dengar yaitu yang biasa
disebut dengan istilah sekolah private.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Setiap manusia
yang lahir ke dunia sudah memiliki kecerdasan yang dianugerahkan tuhan kepada
manusia itu sendiri, dan setiap manusia memiliki banyak kecerdasan dalam
dirinya hanyasaja kecerdasan-kecerdasan yang mereka miliki tidak semuanya dapat
menonjol hanya orang-orang tertentu saja yang dapat menonjolkan beberapa
kecerdasan -kecerdayang mereka miliki. Kecerdasan-kecerdasan tersebut dapat
ditingkatkan dan dikembangkan melalui pendidikan yaitu melalui proses
pembelajaran, tidak hanya itu dalam proses pembelajaran guru harus mampu
merancang model-model pembelajaran dengan mengintegrasikan media-media yang
relevan untuk dapat menumbuhkan serta mengembangkan kcerdasan-kecerdasan siswa
yang masih terpendam.
Adapun
Kecerdasan-kecerdasan tersebut yaitu, kecerdasan linguistik, kecerdasan
matematis-logis, kecerdasan kinestetik-badani, kecerdasan musical, kecerdasan
interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan lingkungan serta kecerdasan
eksistensial. Masing-masing kecerdasan tersebut sudah ada dalam diri setiap
manusia, hanya saja tidak semua kecerdasan menonjol, orang yang pandai
berpidato belum tentu pandai dalam dalam bidang musik, begitu juga sebaliknya.
Adapun
implementasi teori kecerdasan ganda dalam proses pembelajaran dapat kita lihat
dengan banyak munculnya sekolah private, home scholling, kamudian banyak kita
lihat karyawisata yang mengajak siswa untuk melakukan pembelajaran diluar
kelas, dimana hal tersebu merupakan salah satu bentuk implementasi teori
kecerdasan ganda dalam proses pembelajaran yang dilakukan di Negara kita,
Negara Indonesia.
B.
Saran
Berdasarkan
pemaparan makalah di atas, ada beberapa hal yang perlu kiranya penyusun
sampaikan kepada pihak-pihak yang begelut dalam bidang kependidikan baik itu
guru, siswa maupun para praktisi pendidikan. Adapun saran yang dapat penulis
sampaikan yaitu:
1. Setiap
orang memiliki semua kecerdasan yang telah dibahas di atas, setiap kecerdasan
bisa ditingkatkan dan dikembangkan melalui pendidikan.
2. Guru
hendaknya mampu mengembangkan diri untuk membantu mengembangkan
kecerdasan-kecerdasan yang dimiliki oleh siswa dengan terus belajar dan belajar
untuk meningkatkan kemampuan yang mereka miliki untuk dapat mengembangkannya
dalam proses belajar mengajar.
3. Hendaknya
guru mampu menciptakan model-model pembelajaran yang bervariasi yang
diintegrasikan dengan media pembelajaran yang dapat merangkul semua kecerdasan
yang dimiliki oleh siswa
Daftar
Pustaka
Amstrong, Thomas. 2003. Sekolah Para Juara Menerapkan Multiple Intelegences di Dunia Pendidikan. Bandung:
Kaifa.
Asri Budiningsih, C. 2012. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta:
Rineka Cipta.
Azwar, Saifuddin. 2010. Pengantar Psikologi Intgelegensi.
Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
Jasmine, Julia. 2012. Metode Mengajar Multiple Intelegences.
Bandung: Nuansa Cendekia.
Prawira, Atmaja. P. 2013. Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru.
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Safaria, T. 2005. Interpersonal
intelegence: Metode Pengembangan Kecerdasan Interpersonal Anak. Yogyakarta:
Amara Books.
Suparno, Paul. 2009. Teori Intelegensi Ganda dan Aplikasinya di
Sekolah. Yogyakarta: Kanisius.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar