Minggu, 14 Juni 2015

Membangun dan mensinergikan Prinsip "think Global, local Action" Sejak Dini.



Membangun dan mensinergikan prinsip” Think Global dan Local Action” pada generasi muda sejak dini.

Pendidikan hendaknya jangan hanya dipandang sebagai sarana dalam memecahkan permasalahan yang diimplementasikan melalui interaksi antara guru dengan siswa yang disebut sebagai proses pembelajaran dan lain sebagainya. ada beberapa hal yang terlupakan dalam dunia pendidikan yang perlu untuk dibangun kembali, tidak hanya dibangun tetapi perlu juga dibangun sebagai representasi dari nilai-nilai yang terkandung dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam prinsip pengembangan kurikulum yang digunakan sebagai pedoman dalam penysunan kurikulum di Indonesia selama ini, ada prinsip yang disebutkan dengan prinsip relevansi, dalam prinsip relevansi tersebut mengatakan bahwa dalam prosesnya pendidikan atau yang diimplementasikan pada system pembelajaran harus sesuai dengan kondisi budaya masyarakat, harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan harus sejalan juga dengan perkambangan dunia saat ini yaitu era globalisasi.
Selama ini secara tidak sadar bahwa masyarakat, para pelajar, akademisi dan lain sebagainya terlalu terlena dan dimanjakan dengan arus globalisasi, kita secara tidak langsung meninggalkan tradisi-tradisi para pendahulu bangsa ini yang mengandung banyak nilai-nilai kehidupan yang memiliki manfaat dalam menjalani kehidupan dalam bermasyarakat, berbangsa serta bernegara. Tidak hanya itu, nilai-nilai yang terkandung juga dapat menjadi pedoman dalam menjalin hubungan-hubungan dengan Negara lain. Sebagai bangsa yang besar, maka sebagai generasi penerus seharusnya nilai-nilai yang terkandung dalam falsafah hidup bangsa Indonesia dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lembaga pendidikan maupun dalam lembaga sekolah. Karena hal tersebut sebagai bentuk dari pelestarian nilai-nilai budaya bangsa ini, tidak mungkin bangsa lain yang akan melestarikan nilai-nilai yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, kalau bukan rakyat Indonesia siapa lagi.
Masyarakat Indonesia terkenal dengan prinsip gotong royongnya, selalu mengutamakan mufakat dalam menyelesaikan segala permasalahan, musyawarah mufakat menjadi jalan komunikasi yang efektif ketika masyarakat memiliki masalah dan selalu diselesaikan dengan cara duduk bersama. Lalu bagaimana dengan sekarang? Saat ini kondisi seperti itu juistru jarang terlihat dan bahkan tidak pernah terlihat, permusuhan terjadi dimana-mana, sesama aparat Negara saling serang satu sama lain, sesama pejabat Negara saling tuding menuding, itulah yang terjadi saat ini. Mengapa? Karena kita sudah terlalu jauh mengikuti aliran globalisasi, lembaga-lembaga pendidikan tidak menanamkan nilai-nilai budaya secara serius kepada siswa-siswa, para pendidik dan orang-orang yang berkecimpung dibidang kependidikan. Masyarakat saat ini cenderung look down karena arus globalisasi yang semakin maju, tetapi kita kemudian melupakan look up yang sudah menjadi tradisi bangsa kita.
Derasnya arus globalisasi disatu sisi dapat mencitptakan keterdekatan seolah tidak ada jarak dalam melakukan komunikasi dengan yang lain, tetapi dengan modernisasi juga nilai-nilai kebudayaan semakin menipis. Dan bahkan nilai-nilai kebudayaan itu hampir punah dan mulai terkikis karena tergeser oleh arus modernisasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yang sudah mengalir dan berkembang dengan derasnya. Ini terbukti bahwa bagaimana pengaruh kebudayaan barat bisa dengan cepat mempengaruhi kebudayaan local yang sudah ada pada diri bangsa Indonesia, ini mengindikasikan bahwa ada masalah dalam pendidikan kita, bangsa Indonesia selalu menggembar gemborkan pendidikan karakter dalam merumuskan bai itu tentang konten dalam pendidikan maupun dalam merumuskan tujuan pendidikan, selalu mengumandangkan pendidikan karakter dalam proses pembelajaran, tetapi kenyataanya berbeda, penerapan pendidikan karakter kurang diterapkan secara maksimal, pendidikan karakter hanya sebatas wacana, implementasi secara konkret masih belum terlihat jelas. Karena pendidikan kita saat ini terlalu menyepelekan nilai-nilai budaya inodonesia yang memiliki kepribadian jauh lebih baik dari Negara-negara berkembang, bagaimana tidak, kalau kita melihat dari perjalanan bangsa Indonesia sampai menjadi suatu bangsa dan Negara, para pendahulu bangsa Indonesia, mulai dari sejarah kerajaan-kerajaan, kemudian bagaimana kegigihan para tokoh-tokoh muda beserta tokoh agama yang kritis tetapi tetap mengutamakan pribadi yang memiliki sopan santun, itu yang seharusnya kisah-kisah tersebut ditanamkan dan di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari bangsa kita. Bukannya malah manut pada perkembangan teknologi yang sudah maju, kemudian terus larut tanpa memikirkan bagaimana budaya bangsa kita secara perlahan mulai terkikis. Karena pendidikan karakter yang sebenarnya adalah bagaimana mengimplementasikan karakter-karakter kebuduyaan bangsa kita yang sudah diwariskan secara turun temurun oleh para pendahulu bangsa ini.
Sejalan dengan problematika yang terjadi Lontara’na Marioriwawo dari Pattoriolong Hingga Pangaderreng (2003:7), M. Rafiuddin menegaskan : “...Sangatlah disayangkan bila nilai-nilai budaya kita yang begitu tinggi harus hilang begitu saja, oleh kita sendiri, hanya karena kurangnya kepedulian masyarakat untuk mempelajari dan memahami secara benar sesuai apa yang diwariskan leluhur kita...”. Berdasarkan ungkapan di atas, betapa sangat pentingnya menanamkan nilai budaya, nilai-nilai local sejak dini, karena penanaman nilai-nilai budaya sejak dini sehingga ketika mereka dewasa tetap melekat dalam diri pribadi generasi penerus bangsa Indonesia. Karena penanaman sejak dini memiliki dampak yang positif dan bertahan lebih lama pada kepribadian seseorang dan akan sangat sulit untuk hilang. Penanaman sejak dini bisa dimulai dari pendidikan prasekolah misalnya dengan mengenalkan budaya, menceritakan kepada anak-anak tokoh-tokoh bangsa dan kepribadian luhur yang mereka miliki. Kemudian pada jenjang pendidikan dasar dengan materi-materi yang lebih mendalam begitu seterusnya sampai jenjang pendidikan tinggi. Tidak hanya peran para pendidik di sekolah, perang orang tua juga memiliki peran penting dalam pendidikan karakter anak, keluarga merupakan sumber pertama bagi anak dalam memperoleh pengetahuan, baik itu terkait dengan tingkah laku anak, kepribadian dan lain sebagainya. Maka disinilah peran orang tua untuk terus menanamkan pendidikan akhlak dan moral yang baik, bagaimana bersikap dan bertutur kata yang baik, mengajarkan adab dalam segala aktifitas yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan yang baik juga menjadi salah satu factor agar bagaimana nilai-nilai luhur bangsa Indonesia dapat tertanam dengan baik sejak dini pada generasi penerus bangsa. Meskipun hidup di tengah arus globalisasi yang terus berkembang namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai budaya bangsa.

0

Rabu, 03 Juni 2015

Aktifitas Q

\
Taman Wisata Cokro, di Klaten Jawa Tengah


0

SEJARAH kEBUDAYAAN SASAK

Lombok adalah sebuah pulau di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pulau ini terletak di sebelah timur Pulau Bali yang dipisahkan oleh Selat Lombok dan di sebelah barat Pulau Sumbawa yang dipisahkan oleh Selat Atas. Luas wilayah pulau Lombok adalah sekitar 5435 km2 merupakan pulau terbesar ke 108 di dunia. Pulau ini juga terdiri dari 5 kota dan kabupaten yakni Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur, dan Kabupaten Lombok Utara. Pulau Lombok didiami kurang lebih sekitar 3 juta jiwa yang 80% nya merupakan penduduk asli pulau lombok yaitu Suku Sasak.
Suku Sasak dikenal sebagai etnis terbesar yang mendiami Pulau Lombok. Suku ini adalah etnis asli yang telah mendiami Pulau Lombok selama berabad-abad. Ada pendapat yang mengatakan bahwa masyarakat Suku Sasak berasal dari campuran penduduk asli Lombok dengan pendatang dari Jawa tengah yang dikenal dengan julukan Mataram. Konon, pada masa pemerintahan Raja Rakai Pikatan, banyak pendatang dari Jawa Tengah ke Pulau Lombok kemudian banyak juga diantaranya yang melakukan pernikahan dengan warga setempat sehingga menjadi masyarakat suku sasak. Akan tetapi, menurut sejarah pada abad ke-16 Pulau Lombok berada dalam kekuasaan Kerajaan Majapahit. Hal ini terbukti dengan diutusnya Maha Patih Gajah Mada untuk datang ke Pulau Lombok.
Di akhir abad ke 16 hingga abad ke 17 awal, banyak para pendatang dari Jawa yang masuk ke Pulau Lombok sambil menyebarkan pengaruh Islam. Salah satunya adalah dakwah yang dilakukan oleh Sunan Giri pada masa itu. Setelah masuknya dakwah Islam pada masa ini, agama Suku Sasak berubah dari agama Hindu menjadi agama Islam. Dan pada abad ke 18 Lombok diserang dan ditaklukan oleh pasuakan gabungan kerajaan karang asem dari bali. Akibat dari pendudukan kerajaan karangasem dari Bali yang menguasai lombok bagian barat memunculkan kultur atau corak budaya khas Bali di Lombok. Berdasarkan runutan sejarah tersebut Suku Sasak bisa saja diidentifikasi merupakan akulturasi dari beberapa kebudayaan yaitu pengaruh Islam, Hindu, Budaya Jawa dan Bali. Walaupun begitu kebudayaan Suku Sasak memiliki corak kebudayaan asli yang mapan dan berbeda dari budaya suku-suku lain.
Asal nama sasak kemungkinan berasal dari kata sak-sak yang artinya sampan. Dalam Kitab Negara Kertagama kata Sasak disebut menjadi satu dengan Pulau Lombok. Yakni Lombok Sasak Mirah Adhi. Dalam tradisi lisan warga setempat kata sasak dipercaya berasal dari kata "sa'-saq" yang artinya yang satu. Kemudian Lombok berasal dari kata Lomboq yang artinya lurus. Maka jika digabung kata Sa' Saq Lomboq artinya sesuatu yang lurus. banyak juga yang menerjemahkannya sebagai jalan yang lurus. Lombo Mirah Sasak Adi adalah salah satu kutipan dari kakawin Nagarakretagama ( Desawarnana ), sebuah kitab yang mnemuat tentang ukekuasaan dan kepemerintahaan kerajaan Majapahit, gubanan Mpu Prapanca. kata "lombok" dalam bahasa kawi berarti lurus atao jujur, "Mirah" berarti permata, "sasak" berarti kenyataan dan "adi" artinya yang baik atau yang utama. Maka Lombok Mirah Sasak Adi berarti kejujuran adalah permata kenyataan yang baik atau utama.
Adat istiadat suku sasak dapat anda saksikan pada saat resepsi perkawinan, dimana perempuan apabila mereka mau dinikahkan oleh seorang lelaki maka yang perempuan harus dilarikan dulu kerumah keluarganya dari pihak laki laki, ini yang dikenal dengan sebutan merarik atau pelarian.
Caranya cukup sederhana, gadis pujaan itu tidak perlu memberitahukan kepada kedua orangtuanya. Bila ingin menikah, gadis itu dibawa. Namun jangan lupa aturan, mencuri gadis dan melarikannya biasanya dilakukan dengan membawa beberapa orang kerabat atau teman. Selain sebagai saksi kerabat yang dibawa untuk mencuri gadis itu sekalian sebagai pengiring dalam prosesi itu. Dan gadis itu tidak boleh dibawa langsung ke rumah lelaki, harus dititipkan ke kerabat laki-laki.Tentu menikahi gadis dengan meminta izin kepada orang tuanya (redaq) lebih terhaormat daripada mencuri gadis tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, namun proses seperti ini sudah sangat jarang ditemukan karena kebiasaan orang sasak lebih dominan mencurinya supaya tidak terhambat oleh hal-hal yang tidak diinginkan seperti tidak disetujui orang tua gadis atau keterbatasan kemampuan dalam hal materi karena proses "redaq" biasanya menghabiskan biaya yang lebih besar daripada melarikan gadis (merarik) tanpa izin.
Dalam proses pencurian gadis, setelah sehari menginap pihak kerabat laki-laki mengirim utusan ke pihak keluarga perempuan sebagai pemberitahuan bahwa anak gadisnya dicuri dan kini berada di satu tempat tetapi tempat menyembunyikan gadis itu dirahasiakan, tidak boleh diketahui keluarga perempuan. 'Nyelabar', istilah bahasa setempat untuk pemberitahuan itu, dan itu dilakukan oleh kerabat pihak lelaki tetapi orangtua pihak lelaki tidak diperbolehkan ikut.
Rombongan 'nyelabar' terdiri lebih dari 5 orang dan wajib mengenakan berpakaian adat. Rombongan tidak boleh langsung datang kekeluarga perempuan. Rombongan terlebih dahulu meminta izin pada Kliang atau tetua adat setempat, sekedar rasa penghormatan kepada kliang, datang pun ada aturan rombongan tidak diperkenankan masuk ke rumah pihak gadis. Mereka duduk bersila dihalaman depan, satu utusan dari rombongan itu yang nantinya sebagai juru bicara menyampaikan pemberitahuan.

1

Rabu, 13 Mei 2015

Luruskan Niat Mencari Ilmu Kita



 Luruskan Niat Menuntut Ilmu
Niatan menuntut ilmu di awal, haruslah menjadi sesuatu yang musti digarisbawahi. Sedangkan sekolah atau kampus, haruslah dijadikan media atau partner di dalam menuntut ilmu tersebut. Lewat tugas-tugas yang diberikan guru / dosen, merupakan ajang mengasah pribadi setiap individu setiap harinya. Terlepas, apakah tugas tersebut dinilai secara objektif atau tidak. Terlepas apakah tugas tersebut nantinya dibaca guru / dosen atau tidak. Terlepas, apakah nilai tugas tersebut mempengaruhi dominan atas nilai akhir atau tidak. Abaikan itu semua. Tetapi, pandanglah tugas tersebut sebagai alasan logis para penuntut ilmu sejati, untuk berproses membangun keutuhan pribadinya dan kadar intelektualnya masing-masing. Dengan kesadaran tinggi, bahwa sebagai murid atau mahasiswa, saya harus penuhi semua tugas seoptimal mungkin, tanpa ada ketakutan salah mengerjakan, tanpa ada praktek contek kiri kanan, tetap terus mencari format terbaik, tetap terus  memperbaikinya sampai sempurna, tiap hari dan waktunya; yakinlah, akan ada manfaat ganda – bahkan multi manfaat – atas kapasitas intelektual di akhir proses tersebut.
0

Selasa, 12 Mei 2015

Blended Learning

https://prezi.com/e2t42o7wmewe/pengembangan-model-pembelajaran-blended-learning-untuk-menin/#share_embed
0

Senin, 11 Mei 2015

Tentang Saya

Muhammad Alwan, S.Pd
Lahir Di Desa Kembang Kerang, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur
Alumni IKIP Mataram Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan
Saat Ini Masih Menimba Ilmu Di Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

0

Minggu, 03 Mei 2015

Video Blue Birds


0

Popular Posts